Teruo Higa Penemu Teknologi EM

higa.png

Sumber : Pikiran Rakyat Online

HARGA bahan bakar minyak (BBM) di tingkat dunia terus merangkak naik setiap hari. Pemerintah di sejumlah negara terpaksa menaikkan harga BBM karena dianggap sebagai jalan keluar terakhir. Energi alternatif pun dijadikan tumpuan dalam mengatasi tingginya harga BBM. Istilah back to nature kian lantang didengungkan untuk menggugah kesadaran masyarakat agar menggunakan produk-produk alami dalam setiap aktivitasnya.

Penggunaan produk-produk alami atau organik telah merambah ke berbagai bidang seperti energi dan pangan. Sumber energi yang selama ini diperoleh dari perut bumi kini dapat disediakan oleh tumbuhan yang hidup di permukaan bumi. Kebutuhan manusia terhadap gas dapat diperoleh dari bahan organik. Pengolahan kotoran ternak dapat menghasilkan biogas sebagai bahan alternatif dari gas yang selama ini dipakai masyarakat.

Sejak beberapa tahun lalu, bahan pangan organik menjadi primadona yang dicari-cari oleh masyarakat. Hal tersebut wajar karena bahan pangan organik tidak menggunakan bahan-bahan kimia berbahaya dalam proses produksinya. Kunci sukses dalam memproduksi bahan pangan organik adalah penggunaan bahan alami pada titik awal mata rantai produksi. Semua bahan pangan berasal dari tanah, sehingga tanah harus bebas dari bahan-bahan kimia berbahaya. Penggunaan pupuk organik atau kompos wajib dijalankan pada proses produksi bahan pangan organik. Keberadaan pupuk organik atau kompos ini tidak terlepas dari peran seorang ilmuwan besar bernama Teruo Higa melalui teknologi effective microorganism (EM) ciptaannya.
Menciptakan terobosan Teruo Higa lahir pada 28 Desember 1941 di Okinawa, Jepang. Okinawa merupakan sebuah tempat yang berada pada Kepulauan Ryukyu di bagian selatan Jepang. Di tempat inilah Higa tumbuh dan dibesarkan. Berbagai jenjang pendidikan pun Higa selesaikan di tempat ini. Untuk menempuh pendidikan yang lebih tinggi, Higa menjatuhkan pilihannya pada Jurusan Pertanian di Universitas Ryukyus. Dasar-dasar pengetahuan tentang bahan-bahan pangan organik diperoleh Higa di tempat ini.

Higa mengawali kariernya dalam bidang pendidikan. Pilihan tersebut ternyata tidak salah karena Higa kelak akan menjalani karier yang cemerlang. Setelah lulus dari Universitas Ryukyus, Higa terdaftar di Universitas Kyushu sebagai mahasiswa program doktor dengan mengambil spesialisasi pada penelitian pertanian (agricultural research). Program doktor ini diselesaikannya dengan baik dan Higa layak menyandang gelar Ph.D. di belakang namanya.

Pada tahun 1970, Higa ditunjuk untuk menjadi dosen di almamaternya, yaitu Universitas Ryukyus. Karier Higa terus menanjak ketika menjadi dosen di universitas ini. Gelar asisten profesor pun diraihnya pada tahun 1972. Berbagai aktivitas penelitian ia ikuti selama menjalani karir dalam bidang pendidikan. Sumbangsih Higa dalam dunia penelitian, khususnya pertanian organik, menghantarkan Higa untuk meraih gelar profesor hortikultura (professor of holticulture) pada tahun 1982. Gelar ini masih disandangnya hingga sekarang.

Melalui salah satu penelitian yang dilakukannya, Higa berhasil menemukan metode ilmiah untuk meningkatkan kualitas tanah dan pertumbuhan tanaman menggunakan campuran berbagai mikroorganisme yang umumnya terdiri dari bakteri asam laktat (lactic acid bakteria), purple bacteria, dan ragi (yeast). Higa menamakan metode ciptaannya itu dengan teknologi effective microorganism (EM) yang sekaligus menjadi nama paten untuk penemuannya.

Selama melakukan penelitian tentang EM, Higa mengungkapkan bahwa kombinasi dari sekitar 80 macam mikroorganisme mampu memberikan pengaruh positif bagi proses dekomposisi bahan-bahan organik. EM berisi sejumlah mikroorgasnime yang menguntungkan (beneficial microorganism) untuk berbagai aplikasi. Di dalamnya tidak terdapat bahan-bahan kimia yang berbahaya bagi manusia. EM dapat digunakan untuk berbagai macam penggunaan. Dalam bidang pertanian, EM dapat memperbaiki kualitas tanah, meningkatkan hasil panen, dan mengendalikan penyakit tanaman. Dalam bidang peternakan, EM dapat digunakan pada makanan ternak, pengomposan, dan meningkatkan kesehatan ternak.

Di luar kedua bidang itu, EM masih dapat diaplikasikan dalam bidang lain. Dengan alasan itulah Higa mengelompokkan EM sesuai dengan tujuan penggunaannya. Setidaknya ada 15 jenis EM yang memiliki fungsi berbeda-beda. Salah satunya adalah EM1, EM1 Bokashi, EM2, EM4, EM5, dan Activated EM (AEM). Saat ini, sebagian besar masyarakat dunia memanfaatkan EM sebagai bahan untuk membuat kompos, jenis EM yang digunakan adalah EM1 Bokashi dan EM4. Pada pembuatan kompos, larutan EM4 berfungsi sebagai aktivator untuk berjalannya proses pengomposan dengan cara pemberian langsung pada campuran kotoran ternak dan bahan organik.

Mengenalkan EM pada dunia

Setelah menemukan teknologi EM, Higa sibuk dengan aktivitas barunya dalam memperkenalkan EM pada dunia. Hidup Higa dihabiskan untuk berkelana meninggalkan Jepang dalam rangka mempromosikan penggunaan EM. Usaha tersebut membuahkan hasil yang memuaskan ketika 90 negara secara aktif menggunakan EM sebagai bagian dari program pemerintah di masing-masing negara. Selain itu, tidak sedikit pula sektor swasta dan pengusaha yang memanfaatkan penemuan revolusioner dari Higa ini.

Higa patut berbangga pada Indonesia karena EM telah begitu melekat pada pembangunan lingkungan di negara ini. Bahkan, Indonesia mampu memanfaatkan EM untuk mengintegrasikan aspek lingkungan dengan pariwisata. Ensiklopedi wikipedia mencatat, sebagian besar penduduk Bali menggunakan EM dalam produksi tanaman pangan, buah-buahan, dan ternak. Untuk mendukung bidang pariwisata, sejumlah hotel di Bali menggunakan EM dalam pengelolaan air. Aktivitas agro-tourism pun dijalankan oleh hotel-hotel tersebut. Kondisi ini menobatkan Bali sebagai pulau percontohan untuk teknologi EM.

Tersebarnya EM ke seluruh dunia membuat nama Teruo Higa semakin tersohor di kalangan peneliti. Hal tersebut membuatnya dipercaya untuk memegang beberapa jabatan penting di luar jabatan universitas. Salah satu jabatan penting yang dipegangnya adalah ketua Executive Committee for the International Spreading of Nature Farming, presiden Asia-Pacific Natural Agriculture Network, pemimpin Foundation for Earth Environment, dan sejumlah jabatan lain.

Agar teknologi EM terus menyebar dan dimanfaatkan secara luas oleh dunia, Higa menulis puluhan buku yang telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa. Salah satu bukunya yang fenomenal adalah “Use of Microorganisms in Agriculture and Their Positive Effects on Environmental Safety” (1990) dan “An Earth Saving Revolution” (1993). Pada International EM Festa and Conference di Jerman tanggal 9-11 September 2006 lalu, Teruo Higa berkata, “Keseharian aktivitas manusia telah menyebabkan lingkungan tercemar dan ekspansi ekonomi telah membuat lingkungan menderita. Oleh karena itu, sangat penting bagi kita untuk tanggap terhadap isu-isu lingkungan dan melakukan sesuatu untuk menciptakan lingkungan yang bersih.” (M. Ikhsan Shiddieqy, S.Pt.)***