EM4 Indonesia

Denpasar, Bali, Indonesia

Call: 0816574045

info@em4indonesia.com

Petani Muda Banyuwangi Inovatif Kembangkan Jambu Air Citra Berbasis Organik

Selasa, 21 April 2026

224 x Dilihat

EM4 Indonesia

Harianto, petani asal Kedungwungu, Tegaldlimo, Banyuwangi, Jawa Timur menunjukkan produk EM4 Pertanian.

Kecintaan terhadap pertanian organik mendorong Harianto (36), seorang petani asal Kedungwungu, Tegaldlimo, Banyuwangi, Jawa Timur, untuk merintis usaha budidaya jambu air citra. Inovasi ini dipadukan dengan penggunaan teknologi Effective Microorganisms 4 (EM4) sebagai upaya meningkatkan kualitas tanah dan hasil pertanian.

“Meskipun daerah ini dikenal sebagai sentra buah naga, saya ingin mencoba sesuatu yang berbeda. Saya memilih menanam jambu air citra,” ujar Harianto saat berbincang dengan tim Youtube EM Indonesia Official belum lama ini.

Menurut Harianto, keputusan memilih jambu air citra didasarkan pada stabilitas harga di pasaran yang berkisar antara Rp20 ribu hingga Rp25 ribu per kilogram. Selain itu, jumlah petani yang membudidayakan tanaman tersebut di wilayahnya masih tergolong sedikit, sehingga peluang pasar masih terbuka lebar.

Dalam praktik budidayanya, Harianto menjelaskan bahwa teknik yang digunakan tidak jauh berbeda dengan tanaman jeruk, mulai dari pengolahan tanah hingga pemupukan. Namun, ia menekankan penggunaan bahan-bahan organik untuk mengurangi ketergantungan pada zat kimia.

“Saya menggunakan pestisida organik dan berusaha mengurangi penggunaan bahan kimia,” katanya.

Untuk pemupukan, Harianto memanfaatkan fermentasi kotoran kambing yang dicampur dengan EM4. Proses fermentasi berlangsung selama satu hingga dua bulan sebelum pupuk diaplikasikan ke lahan. Setiap pohon mendapatkan sekitar 10 hingga 20 kilogram pupuk fermentasi.

Saat ini, ia telah menanam sebanyak 48 pohon jambu air citra. Setelah 1,5 tahun perawatan, tanaman tersebut mulai menunjukkan tanda-tanda berbuah. Harianto menargetkan panen dapat dilakukan dua kali dalam setahun.

EM4 sendiri merupakan teknologi pertanian yang memanfaatkan mikroorganisme bermanfaat untuk meningkatkan kesuburan tanah dan pertumbuhan tanaman. Teknologi ini pertama kali diperkenalkan oleh Prof. Dr. Teruo Higa dari Universitas Ryukyus, Okinawa, Jepang, dan kini telah digunakan secara luas di berbagai negara.

Kandungan mikroorganisme dalam EM4 meliputi bakteri asam laktat, bakteri fotosintetik, actinomycetes, streptomyces, ragi, serta jamur pengurai selulosa. Kombinasi ini mampu mengubah bahan organik menjadi nutrisi yang mudah diserap tanaman.

Harianto mengaku terinspirasi dari pengalaman petani sekitar yang mengalami penurunan kualitas tanah akibat penggunaan pupuk dan pestisida kimia secara berlebihan. Hal tersebut mendorongnya untuk beralih ke sistem pertanian organik yang lebih ramah lingkungan.

“Saya senang berinovasi, termasuk membuat pupuk dari kotoran kambing. Saya optimistis bisa berhasil, dan tentu harus terus belajar. Jika ada kendala, saya tidak segan bertanya kepada petani yang lebih berpengalaman,” ujarnya.

Langkah inovatif Harianto diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi petani lain untuk mengembangkan pertanian yang lebih berkelanjutan dan bernilai ekonomi tinggi.


Berita Terkini