EM4 Indonesia

Denpasar, Bali, Indonesia

Call: 0816574045

info@em4indonesia.com

Heru Winarto Sukses Kembangkan Budidaya Timun di Lahan Bekas Sawah Terbengkalai

Jumat, 22 Mei 2026

122 x Dilihat

EM4 Indonesia

Heru Winarto, petani di Kecamatan Karang Delanggu, Kabupaten Klaten, Provinsi Jawa Tengah, tunjukkan produk EM4.

Heru Winarto, petani asal Kecamatan Karang Delanggu, Kabupaten Klaten, Provinsi Jawa Tengah, sukses mengembangkan budidaya tanaman timun di hamparan lahan bekas sawah yang sebelumnya terbengkalai. Inovasi tersebut menjadi peluang baru di tengah kondisi harga gabah dan beras yang dinilai tidak stabil.

Pria berusia 57 tahun itu mengungkapkan, mayoritas petani di daerahnya sebelumnya mengandalkan tanaman padi. Namun dalam beberapa tahun terakhir, banyak petani mulai beralih menanam sayur mayur karena dinilai memiliki prospek pasar yang lebih baik.

“Kita mencoba memanfaatkan momentum ini untuk mengembangkan pertanian yang dibutuhkan pasar dengan harga yang bagus,” ujar Heru.

Heru menjelaskan, proses awal pengolahan lahan menjadi tantangan tersendiri. Bekas sawah yang lama tidak digarap membuat kondisi tanah menjadi kering dan keras sehingga membutuhkan waktu cukup lama untuk diolah menjadi bedengan siap tanam.

“Proses pengolahan lahan dari bekas sawah hingga siap tanam membutuhkan waktu sekitar tiga bulan,” katanya.

Dalam budidaya timun tersebut, Heru menggunakan pupuk dasar NPK pada tahap awal pertumbuhan tanaman. Setelah itu, ia melanjutkan perawatan menggunakan Effektive Microorganisme 4 (EM4).

Menurut Heru, penggunaan EM4 memberikan dampak positif terhadap pertumbuhan tanaman timun, terutama pada perkembangan akar yang lebih banyak dan kuat.

“Dengan EM4 membuat tanaman perakarannya menjadi lebih banyak dan kuat,” ujar Heru yang mengelola lahan pertanian seluas dua hektar.

Hasilnya pun cukup memuaskan. Pada usia tanam 17 hari, tanaman timun sudah mulai mengeluarkan bunga. Selain itu, penggunaan EM4 disebut mampu memperpanjang masa panen serta menghasilkan buah timun berukuran besar.

“Seumur-umur saya berkebun, baru pertama ini menghasilkan buah timun yang cukup besar dengan berat mencapai 1,1 kilogram. Saya menyakini itu semua pengaruh dari menggunakan produk EM4,” ungkapnya.

Meski pasar umumnya menyerap timun dengan ukuran standar, Heru mengatakan buah timun berukuran besar tetap memiliki pasar tersendiri, terutama untuk kebutuhan acar.

“Biasanya buah timun yang berukuran besar tidak kita panen, namun dibiarkan sampai menguning dan itu bisa dimanfaatkan menjadi bibit,” jelasnya.

Ia juga merasa senang karena masa panen tanaman timun yang dibudidayakannya bisa berlangsung hingga 65 hari, lebih panjang dibandingkan masa panen normal sekitar 50 hari.

Tidak hanya menanam timun, Heru juga menerapkan sistem tumpang sari dengan memanfaatkan sela-sela lahan untuk menanam kemangi. Menurutnya, permintaan pasar terhadap kemangi cukup tinggi, terutama dari warung lalapan.

“Kebetulan pasar kemangi sangat terbuka, karena banyak warung lalapan yang sangat membutuhkan kemangi dalam jumlah banyak. Apalagi tanah di lahan tanaman sangat gembur dan subur sehingga potensial untuk bercocok tanam tumpang sari,” pungkasnya.


Berita Terkini