EM4 Indonesia

Denpasar, Bali, Indonesia

Call: 0816574045

info@em4indonesia.com

Hadapi Kemarau Panjang dengan Silase Fermentasi Menggunakan EM4

Rabu, 29 Juli 2026

171 x Dilihat

EM4 Indonesia

Foto : Silase merupakan hijauan makanan ternak yang diawetkan dengan menggunakan teknik fermentasi.

Menghadapi kemarau panjang menjadi tantangan besar bagi para peternak karena pertumbuhan hijauan pakan menurun drastis. Rumput yang biasanya tersedia melimpah saat musim hujan berubah menjadi kering dan sulit ditemukan. Akibatnya, kebutuhan nutrisi ternak sering tidak terpenuhi secara optimal sehingga dapat memengaruhi pertumbuhan, kesehatan, reproduksi, dan produktivitas ternak. Salah satu langkah antisipasi yang efektif untuk menghadapi kemarau panjang adalah menyiapkan silase sejak musim hujan ketika hijauan masih melimpah. Silase merupakan pakan hijauan yang diawetkan melalui proses fermentasi tanpa oksigen (anaerob), sehingga dapat disimpan dalam waktu lama sebagai cadangan pakan berkualitas ketika rumput segar mulai sulit diperoleh.

Bahan baku silase dapat berasal dari berbagai hijauan yang mudah ditemukan, seperti rumput gajah, rumput lapangan, daun jagung, jerami padi, pucuk tebu, hingga limbah pertanian lainnya. Dengan memanfaatkan bahan-bahan tersebut, peternak tidak hanya memiliki cadangan pakan untuk menghadapi kemarau panjang, tetapi juga dapat mengurangi limbah organik yang belum termanfaatkan secara maksimal. Pada proses pembuatannya, hijauan dicacah menjadi ukuran sekitar 3–5 cm agar fermentasi berlangsung lebih merata. Selanjutnya bahan dicampur dengan molase sebagai sumber energi bagi mikroorganisme. Penambahan EM4 Peternakan sebagai starter fermentasi membantu mempercepat proses fermentasi sehingga menghasilkan silase dengan kualitas yang lebih baik.

EM4 Peternakan mengandung kultur campuran mikroorganisme efektif yang menguntungkan. Mikroorganisme tersebut bekerja menghasilkan asam organik yang menurunkan pH bahan silase sehingga mampu menghambat pertumbuhan bakteri pembusuk dan jamur.


Setelah semua bahan tercampur, hijauan dimasukkan ke dalam drum plastik, silo, atau kantong plastik yang kedap udara. Bahan dipadatkan agar tidak ada udara yang terperangkap, kemudian wadah ditutup rapat dan disimpan selama 14–21 hari. Kondisi anaerob yang terjaga menjadi kunci keberhasilan fermentasi silase.

Silase yang berhasil difermentasi memiliki ciri-ciri warna hijau kecokelatan, aroma asam segar yang khas, teksturnya masih baik, tidak berlendir, serta bebas dari jamur. Penggunaan EM4 Peternakan membantu menciptakan fermentasi yang lebih stabil sehingga kualitas silase lebih konsisten apabila prosedur pembuatannya dilakukan dengan benar. Keunggulan silase tidak hanya terletak pada daya simpannya yang dapat mencapai berbulan-bulan bahkan lebih dari satu tahun, tetapi juga pada kemampuannya mempertahankan sebagian besar kandungan nutrisi hijauan. Dengan demikian, ternak tetap memperoleh pakan berkualitas meskipun kemarau panjang berlangsung lebih lama dari biasanya.

Pemanfaatan silase juga memberikan keuntungan ekonomi bagi peternak. Hijauan yang berlimpah saat musim hujan dapat disimpan sebagai cadangan sehingga kebutuhan membeli pakan tambahan selama musim kemarau dapat dikurangi. Dengan persiapan yang baik, biaya produksi menjadi lebih efisien dan usaha peternakan tetap berjalan secara berkelanjutan. Menghadapi kemarau panjang bukan hanya soal mencari rumput setiap hari, tetapi juga tentang bagaimana mempersiapkan cadangan pakan sejak dini. Melalui pembuatan silase fermentasi menggunakan EM4 Peternakan, peternak dapat menjaga ketersediaan pakan, mempertahankan kesehatan dan produktivitas ternak, serta membangun usaha peternakan yang lebih tangguh dalam menghadapi perubahan iklim dan musim yang semakin sulit diprediksi.

 

Pilih Yang Sudah Pasti, EM4

 


Berita Terkini