Limbah Dapur Disulap Jadi Kompos Tak Berbau, Warga Genuk Belajar Bersama Pakar UIN Walisongo
Selasa, 29 September 2026
204 x Dilihat
Warga RW 3 Kelurahan Genuk, Ungaran Barat, mempraktikkan langsung cara membuat kompos tidak bau dengan memasukkan bahan "coklatan" berupa jerami kering ke dalam tong komposter. Praktik ini dipandu langsung oleh pakar agroekologi UIN Walisongo, Dian Triastari Armanda (tengah memegang mikrofon), dalam rangkaian program pengabdian masyarakat Polimarin, Ahad (5/7/2026).
Tumpukan limbah basah sisa makanan ternyata dapat diolah menjadi pupuk organik bernilai ekonomi tanpa menimbulkan bau busuk. Pengetahuan tersebut dipraktikkan langsung oleh anggota Karang Taruna Wira Panca Bakti RW 3, Kelurahan Genuk, Ungaran Barat, melalui pelatihan pengolahan limbah organik bersama pakar Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang, Ahad (5/7/2026).
Kegiatan edukasi ekonomi sirkular tersebut merupakan bagian dari program pengabdian kepada masyarakat yang diselenggarakan Politeknik Maritim Negeri Indonesia (Polimarin).
Dalam pelatihan tersebut, warga diajak mengolah limbah dapur yang selama ini dibuang begitu saja ke tempat sampah menjadi kompos yang dapat dimanfaatkan untuk menyuburkan tanaman, sekaligus berpotensi memiliki nilai jual.
Rasio Bahan Jadi Kunci Kompos Tak Berbau
Ahli agroekologi Fakultas Sains UIN Walisongo Semarang, Dian Triastari Armanda, menjelaskan bahwa salah satu kunci menghasilkan kompos yang tidak menimbulkan bau adalah menjaga keseimbangan bahan penyusunnya.
“Kalau pernah dengar bikin kompos kok bau, nah ini pasti kurang coklat. Cara memperbaikinya, tambahi coklatan selama proses,” ujar Dian Armanda di hadapan peserta pelatihan.
Bahan “coklatan” merupakan material yang kaya karbon, seperti daun kering, serabut kelapa, jerami, dan kardus bekas. Sementara bahan “hijauan” antara lain sisa sayuran dan nasi yang memiliki kandungan nitrogen.
Keseimbangan kedua jenis bahan tersebut penting untuk menjaga proses pengomposan tetap optimal. Rasio karbon dan nitrogen (C/N) yang ideal dalam proses pengomposan berada di kisaran 30:1.
Jika bahan hijauan terlalu banyak, tumpukan kompos cenderung menjadi terlalu basah sehingga dapat memicu munculnya bau tidak sedap. Karena itu, penambahan bahan coklatan diperlukan untuk membantu menyeimbangkan kondisi komposter.
EM4 Digunakan sebagai Bioaktivator
Selain komposisi bahan, peserta juga diperkenalkan dengan penggunaan EM4 (Effective Microorganisms) sebagai bioaktivator dalam proses pengolahan limbah organik.
Dalam praktiknya, peserta tidak langsung menuangkan EM4 ke dalam tumpukan bahan. Larutan tersebut terlebih dahulu diaktifkan dengan mencampurkannya bersama air dan molase atau tetes tebu.
Dian menjelaskan, penambahan gula berfungsi sebagai sumber makanan bagi mikroorganisme sehingga dapat bekerja dalam proses penguraian bahan organik.
“Kita bangunkan dulu dia tidur. Caranya gimana? Kasih makan. Kalau dikasih makan dia pasti bangun. Makanannya apa? Gula,” tutur Dian.
Larutan EM4, air, dan molase kemudian didiamkan sekitar 15 menit sebelum diaplikasikan ke dalam tong komposter. Setelah itu, larutan disemprotkan secara merata ke bahan organik.
Limbah Rumah Tangga Jadi Pupuk Bernilai Ekonomi
Setelah seluruh bahan dimasukkan ke dalam tong komposter, wadah perlu ditutup untuk menjaga kondisi proses pengomposan. Peserta juga diberikan pemahaman mengenai pengelolaan komposter selama proses berlangsung, termasuk pengaturan kondisi di dalam wadah agar proses penguraian berjalan dengan baik.
Hasil kompos yang telah matang dapat dikenali dari perubahan warna menjadi gelap atau hitam serta aroma yang tidak lagi menyengat, melainkan menyerupai aroma fermentasi.
Melalui pelatihan tersebut, warga RW 3 Kelurahan Genuk tidak hanya mendapatkan pengetahuan tentang pengelolaan sampah organik, tetapi juga melihat peluang pemanfaatan limbah rumah tangga menjadi produk yang bermanfaat.
Kompos yang dihasilkan dapat digunakan untuk menyuburkan tanaman di lingkungan rumah maupun pekarangan. Dalam jangka panjang, produk pupuk organik tersebut juga berpotensi dikemas dan dipasarkan sehingga memberikan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat.
Kegiatan ini sekaligus mendorong penerapan ekonomi sirkular di tingkat masyarakat, dengan mengubah limbah organik rumah tangga menjadi sumber daya yang kembali bermanfaat bagi lingkungan.
https://jatengdata.com/berita/pakar-uin-bongkar-rahasia-cara-membuat-kompos-tidak-bau/